Hari itu cuacanya indah. Andi memasuki ruang kelas dengan penuh semangat, maklumlah hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah. Sejenak kemudian datanglah guru kelasnya dan mengumunkan bahwa hari ini anak-anak akan mendapatkan pelajaran kesenian yang pertama.
Andi senang sekali karena benaknay dipenuhi dengan gambar-gambar yang indah. Andi tidak sabar menunggu untuk menuangkan gambar-gambar indahnya di atas selembar kertas. Buku gambar, krayon penuh warna-warni, semua peralatan gambar sudah disiapkan untuk membuat karya pertamanya.
Gurunya berkata dengan antusias ” Baik anak-anak semua sudah siap ?? Saya ingin kalian menggambar pesawat terbang”
Didalam benaknya Andi bisa membayangkan sebuah pesawat terbang melintas diantara gumpalan-gumpalan awan, tapi tidaklah mudah bagi Andi untuk menuangkan dan mengeluarkan gambar-gambar itu dari otak ke atas sebuah kertas.
Sampai tahap ini, pada Andi yang masih berusia 5 tahun apa yang akan secara alami terjadi pada Andi ?? Tentu saja, Andi menoleh kesana kemari untuk melihat apa yang dilakukan oleh teman-temanya.
Namun, tiba-tiba gurunya mengeur”Andi, jangan melihat pekerjaan anak lain, itu menyontek namanya!!”
Dalam keadaan jengkel Andi pun berjuang untuk menuangkan ide-idenya. Dan saat diberi kesempatan saling melihat hasil gambar siswa ternyata gambar Andi lebih jelek dibanding teman-temanya. Parahnya pula datang temannya dan mengatakan ”Gambar apa itu ?? jelek sekali, masak pesawat gak pakai sayap?”
Perasaan sakit hati dan terhina terkumpul dalam benak Andi dan tunas kreatifitas itu pun akhirnya layu terkulai.
Selanjutnya datang lebih banyak penderitaan baginya, karena selama dua minggu berikutnya terpajang di dinding kelas bukanlah gambar pesawat miliknya. Ia merasa bersalah dan tidak mampu. Setiap hari kehadirannya dikelas senantiasa dianungi bayang-bayang ketidakmampuan, kegagalan dan mimpi indah yang tidak pernah terwujud dalam kenyataan.
Beberapa minggu sesudahanya sang Guru datang dan memberitahu bahwa pelajaran hari ini adalah kesenian.
”oh… tidaaaaak !!! menggambar lagi ??”
Mulai saat itu seniman kreatif, istimewa dan lami dalam dirinya telah bersembunyi dan terus mengalami mimpi buruk.
Sahabat, jangan pernah ada Andi-andi yang baru di rumah dan sekolah kita. Anak kita adalah seniman yang sangat kreatif. Hargai hasil karya mereka !
karena anak-anak memiliki kekayaan persepektif bagi karya-karya agungnya.
terinspirasi dari Ustadz Miftahul Jinnan dalam Karyanya Smart Parents for Smart Students.
Popularity: 1% [?]
No related posts.

betul kang, tidak ada yang bisa memberikan lingkungan terbaik bagi anak-anak selain keluarganya sendiri. Sayangnya, disaat waktu orang tua tersita oleh perjuangan mencari materi, maka kebutuhan ruhaniah anak-anak kita serahkan di meja sekolah kepada guru-guru dan teman-teman mereka.
tantangan dan sekaligus ladang pahala bagi kita semua untuk merawat pertumbuhan anak-anak dan menyiapkan masa depan mereka. Semoga jaya anak Indonesia !!