Nama Nurdin dalam setahun terkahir ini sangatlah populer di negeri kita tercinta. Nurdin Halid dan Noordiin M. Top, kedua-duanya begitu topbbgt, satu Ketua PSSI satu nya lagi tertuduh sebagai gembong terorisme. Satunya masih dan bahkan tambah populer sementara yang satunya lagi dikabarkan sudah meninggal terterjang timah panas Densus 88.
Kali ini saya iseng-iseng mencari informasi seputar Nurdin Halid yang tambah ngetop, (siapa tahu bisa menambah trafik pengunjung ke blog ini) dan tambah ngetop dalam 1-2 bulan kedepan, minimal kalau beliau masih bertahan sebagai calon ketua PSSI dijamin bakalan tambah lama kengetopannya.
Berikut penelusuran saya tentang Nurdin Halid di situs-situs komersil dan sosial, sekedar buat arsip karena barangkali saja barangnya Nurdin ini dihapus/terhapus dari sumber aslinya. Selamat membaca !!!
Pertama : Kenapa Nurdin Harus Turun
dari http://archive.kaskus.us/thread/5569595
DELAPAN tahun terakhir, organisasi sepak bola nasional (baca: PSSI) menjadi sorotan. Sejumlah masalah mengadang dengan berbagai sudut pandang. Selama kepemimpinan Nurdin Halid, PSSI yang didirikan pada 19 April 1930 itu lebih banyak memunculkan sisi kontroversi dibandingkan prestasi. Karut marutnya sepak bola nasional belakangan bukan karena minimnya potensi dan sumber daya yang dimiliki. Tapi, lebih kepada inkompetensi di pucuk pimpinan. Sumber masalah utama ada di Nurdin Halid. Satu kepala itu hanya mampu menghadirkan sejuta masalah.
Untuk mengenal sosok Nurdin Halid cukup mudah. Karakter dan kepribadiannya dapat dilihat
dalam biografinya setebal 234 halaman yang ditulis rekan Yosef Tor Tulis dengan judul Pendekar Bola dari Bugis”. Kesimpulannnya, Puang Nurdin, begitu ia biasa disapa, memang pecinta sepak bola sejati, pebisnis kaya improvisasi, dan piawai berorganisasi. Tapi, ia sosok ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan posisi dan kepentingannya.
Darah sepak bola sudah mengalir dalam diri Nurdin lewat Andi Abdul Halid, sang ayah. Sejak usia delapan tahun, Nurdin sudah menimang-nimang si kulit bundar. Mulai bola yang terbuat dari kain bekas yang diikat dengan daun pisang, sampai dengan kulit jeruk. Ia pernah jadi striker sampai kiper. Kakinya pernah mendapatkan jahitan sepanjang tiga sentimeter karena tulang betis kaki kirinya diterjang lawan. Kepalanya pernah bocor akibat lemparan botol saat memanajari PSM melawan Persipura di semifinal LI 1995/1996.
Puang, begitu Nurdin biasa disapa, pernah berlabel sebagai manajer Rp 1 miliar. Sempat jadi manajer timnas, Ketua Pengda PSSI Sulawesi Selatan, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PSSI, sampai akhirnya menduduki kursi nomor satu di PSSI. Wajar, Pria kelahiran Watampone, 17 September 1958, ini paham betul “kebobrokan” sepak bola nasional. Tak aneh, bila kemudian ia berani “mengelabui” Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA).
Dipihak lain, jiwa bisnis sudah terekam dalam kegiatannya semasa jadi mahasiswa. Puang kuliah di jurusan bisnis perusahan IKIP Makassar. Ia tak malu berjualan ‘diktat’ dan kaos sablon. Ia pernah menjabat sebagai pengurus Penggilingan Padi (Perbadi) sampai Ketua Umum Induk Koperasi Unit Desa (Inkud). Bisa jadi, naluri bisnis yang dimiliki “menggiringnya” untuk melakukan impor ilegal minyak goreng, gula, dan beras, yang akhirnya menggiringnya hidup dalam pengasingan di balik jeruji besi.
Nurdin pun masuk kategori anak cerdas dan pandai berorganisasi. Sejak Sekolah Dasar, ia selalu jadi bintang kelas. Ia piawai berdeklamasi, menari, dan berdiplomasi. Pernah aktif di OSIS, kegiatan Pramuka, sampai senat Mahasiswa. Kecerdasan dan kepandaian berdiplomasi mengantarkanya masuk jajaran pengurus KNPI, AMPI, dan pengurus Golkar. Dari sinilah Nurdin tampil sebagai anggota DPR RI dan akhirnya mencetak sejarah sebagai anggota dewan yang dilantik, dan sehari kemudian masuk penjara.
Dalam biografinya, tersirat jelas Nurdin begitu terobsesi mencatatkan sejarah dalam setiap langkahnya. Setidaknya, itu sudah dilakukannya di sepak bola. Saat terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada 21 Oktober 2003 menggantikan Agum Gumelar sejumlah catatan penting ditorehkannya.
Bahkan, ia pantas masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) pimpinan Jaya Suprana. Nurdin satu-satunya Ketua Umum PSSI atau induk olahraga di Indonesia yang mengumumkan kabinetnya lewat siaran langsung layaknya Presiden Indonesia mengumumkan para menterinya. Ia satu-satunya Ketua Umum PSSI yang mampu meyakinkan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) untuk menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah Piala Asia untuk kali pertama. Ia juga satu-satunya Ketua Umum PSSI yang mampu menggelar Munas di luar Jawa sejak berdiri pada 1930 yang dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan disiarkan langsung melalui televisi ke seantero Nusantara. Ia juga satu-satunya Ketua Federasi Sepak Bola di dunia yang menempatkan 124 personel dalam kepengurusan 2007-2011. Terbesar di dunia. Melebihi kabinet AFC, bahkan FIFA.
Kedua : Empat jempol Untuk Nurdin
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/24/205566/70/13/Empat-Jempol-untuk-Nurdin-
NURDIN Halid layak dijuluki Ketua Umum PSSI terhebat sepanjang sejarah. Bukan karena prestasi, tentu saja, melainkan hebat lantaran ia tak mempan dikritik, tahan makian dan hujatan.
Kian kencang angin perubahan menerjang PSSI, semakin kuat resistensi Nurdin dan kroninya. Kian keras teriakan agar dia mundur, semakin bersemangat ia dan sekutunya menulikan telinga.
Jadi, daripada terus menggerus energi untuk memaksa mereka membuka mata hati, saatnya kita membalikkan logika, yaitu Nurdin memang komandan PSSI supertangguh.
Sebagai Ketua Umum PSSI, Nurdin sangat berdedikasi dan total. Demikian berdedikasinya, ia bahkan rela mengendalikan organisasi sepak
bola nasional dari balik jeruji besi.
Itu pengabdian yang tak ada bandingannya karena tak ada ketua umum asosiasi sepak bola di kolong langit ini yang pernah memimpin dari penjara, kecuali Nurdin.
Soal totalitas? Jangan diragukan. Selama delapan tahun sejak terpilih pada Kongres PSSI 2003, Nurdin ogah hengkang dari kursi empuk di Senayan. Bahkan, demikian hebat cintanya kepada sepak bola Indonesia sehingga mendorong dia maju kembali pada Kongres PSSI 2011 untuk tetap menjadi Ketua Umum PSSI hingga 2015.
Pesaing di luar kroninya, yaitu Jenderal George Toisutta dan Arifin Panigoro, tidak diloloskan Komite Pemilihan PSSI. Dari 237 juta rakyat Indonesia, komite hanya melihat Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie yang layak memimpin PSSI.
Sama seperti Nurdin, Nirwan Bakrie juga sangat mencintai PSSI. Keduanya kolega yang pas, sohib yang setia, penuh dedikasi, dan rela berkorban demi PSSI. Apalagi jika ditambah Nugraha Besoes, sekretaris jenderal yang sudah lebih dari 20 tahun bercokol di PSSI, sempurnalah kepemimpinan PSSI.
Begitu sayangnya kepada PSSI, mereka tak mau PSSI dikelola orang lain. Karena itu, dosa rasanya jika kita ingin memisahkan mereka.
Kita pun patut berterima kasih kepada komite pemilihan yang akhir pekan lalu berhasil menjegal Jenderal TNI George Toisutta dan Arifin Panigoro.
Nah, daripada membuang waktu, energi, dan uang miliaran rupiah guna menyelenggarakan kongres di Bali, bulan depan, langsung saja sekarang komite pemilihan mengukuhkan Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, dan Nugraha Besoes masing-masing sebagai Ketua Umum, Wakil Ketua
Umum, dan Sekretaris Jenderal PSSI sepanjang masa, seumur hidup. Toh, sudah bisa ditebak, mayoritas dari 100 anggota PSSI akan memberikan suara untuk mereka.
Demikian hebat ketiga orang itu memajukan sepak bola Indonesia, rasanya tak cukup mengapresiasi mereka hanya dengan dua jempol tangan. Dua jempol kaki pun patut kita acungkan.
Mau Beli Buku “Dosa-dosa Nurdin” ??
dari : http://www.antaranews.com/berita/247084/mau-beli-buku-dosa-dosa-nurdin-halid
Yogyakarta (ANTARA News) - Mau beli buku “Dosa-Dosa Nurdin Halid”? Buku itu sudah tersedia dan sudah diterbitkan salah satu penerbit buku di Yogyakarta Galang Press, kemudian dijual secara asongan di kawasan Tugu Yogyakarta karena toko buku besar tidak mau menjualnya.
“Ada salah satu toko buku besar yang enggan menjualnya dengan alasan yang tidak kami tahu, sehingga kami memutuskan untuk menjual buku ini secara asongan dan di toko buku-toko buku kecil,” kata Direktur Galang Press Julius Felicianus di sela-sela penjualan buku tersebut di Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia, buku tersebut merupakan buku yang cukup penting untuk memberikan referensi mengenai sepak terjang Nurdin Halid selama memimpin organisasi sepak bola tertinggi di Indonesia Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
“Di dalam buku ini, masyarakat akan mengetahui informasi mengenai kasus-kasus yang melibatkan Nurdin Halid, dan mengapa Nurdin Halid menjadi penyebab gagalnya sepak bola di Indonesia,” katanya.
Berjualan secara asongan tersebut tidak hanya dilakukan di Yogyakarta, tetapi juga dilakukan di sejumlah kota lain seperti Jakarta, Semarang, Malang dan Surabaya.
“Saat ini, kami sudah masuk ke cetakan kedua dengan total buku mencapai 7.500 eksemplar,” katanya.
Di Yogyakarta, jumlah buku yang dijual secara asongan tersebut berjumlah 50 eksemplar dengan harga jual Rp50.000 per buku, sedang harga jual di toko buku adalah Rp60.000 belum termasuk diskon.
Ia berharap, melalui buku tersebut, sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa bisa terus berkembang dengan baik dan menghasilkan prestasi yang membanggakan seluruh bangsa Indonesia.
“Kami akan berjualan buku ini secara asongan hingga Kongres PSSI digelar,” katanya.
Sejumlah karyawan di penerbitan buku tersebut terlibat dalam penjualan buku secara asongan serta adanya keterlibatan dari seniman badut Yogyakarta, Tedjo Badut.
(*)
Kasus Dugaan Korupsi Nurdin Halid Harus Diproses
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesian Coruption Watch (ICW) meminta agar kasus dugaan keterlibatan Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) diproses di level nasional. Pasalnya, kasus yang bermuara dari korupsi APBD untuk klub sepakbola ini dinilai bisa menjadi model di tingkat nasional.
“Harusnya limpahkan langsung ke Jampidsus biar persidangan dijadikan model bahwa fenomena sepakbola terjadi seperti ini,”ujar peneliti hukum ICW, Apung Widadi saat dihubungi Jumat (11/2).
Apung menjelaskan kasus korupsi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Samarinda tahun 2007/2008 hanya merupakan contoh kecil penyalahgunaan anggaran untuk sepakbola.
Selain Persisam, ungkap Apung, kasus yang sudah diproses hukum adalah penyalahgunaan APBD untuk Persema Manado. Dimana Walikota Manado sudah menjadi tersangka. “Jadi bukan hanya bisa terjadi di klub lain. Menurut penelitian ICW, terjadi di beberapa klub banyak klub yang memakai APBD,”ujarnya.
PSSI melakukan klarifikasi Pada laman pssi-football.com. Menurut PSSI, pemberitaan yang menyebutkan adanya kucuran dana sebesar Rp 100 juta yang diterima oleh Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, kemudian Rp 25 juta untuk Deputi Sekjen Bidang Organisasi Hamka B Kadi, dan Rp 600 juta untuk Iwan Budianto, yang dalam pemberitaan media disebutkan sebagai Ketua Badan Liga Sepakbola Amatir Indonesia (BLAI) PSSI adalah tidak tepat.
Menurutnya, dana Rp 100 juta yang disebut-sebut diberikan kepada Ketua Umum PSSI, pada kenyataannya adalah dana yang disumbangkan Aidil Fitri untuk bantuan operasional timnas saat itu.
Popularity: 1% [?]
No related posts.
selama di Makassar, Nurdin memang terkenal sebagai pengusaha yang pintar memanfaatkan peluang, berani mengambil resiko dan menghalalkan segala cara.
tapi sisi positifnya adalah dia memulai semuanya sendirian, gak mendompleng nama orang tua
manusia terlahir tak pastilah sempurna, pasti punya kelebihan dan kekurangan termasuk Bang Nurdin. Terimakasih atas kunjungannya, semoga Daeng gak bosan berkunjung kesini…