Sebut saja namanya kang Toyo, tetangga sebelah rumah saya di desa. Perawakannya tidak terlalu tinggi, kekar dan kulitnya hitam terbakar terik matahari. Sepintas sudah terlihat kalau kang Gutoyo adalah seorang pekerja keras. Ijazah SD adalah pengesahan terhadap pendidikan legal formal yang ia tempuh. Saya mengenalnya sejak pindah rumah mengikuti penempatan istri saya sebagai bidan di desa.
Karena ia tidak memiliki sebidang tanah untu ia garap, maka lebih tepat kalau Kang Toyo disebut sebagai buruh tani. Memiliki seorang istri dan seorang anak yang sekarang duduk di kelas 6 SD, 5 tahun yang lalu ia adalah penerima BLT yang memang benar layak menerima bantuan, rumahnya bedinding bambu dan berlantai tanah.
Sebagai seorang buruh tani, kang Toyo termasuk golongan garis keras alias suka bekerja keras. Bila musim tebang tebu, ia berangkat dari rumah jam 05.30 dan pulang menjelang maghrib. Ketika musim tebang tebu habis ia bekerja serabutan jadi buruh mencangkul, bila musim panen ia dan istrinya pun tak ketinggalan menjadi buruh pemetik padi.
Tiap rupiah yang ia kumpulkan digunakan untuk keperluan sehari-hari dan sisanya dibelikan anak sapi. Berbekal kerja keras dan ketelatenannya, saat ini kang Toyo pun sudah tidak menjadi penerima BLT, rumahnya sudah mulai berdinding bata, demikian pula lantainya.
Beberapa minggu yang lalu pun sebuah sepeda motor bekas yang masih layak pakai berhasil ia beli setelah menjual beberapa sapi yang sudah beranak pinak sejak 5 tahun yang lalu. Dan kemarin sore saat berangkat bersama ke langgar RT terungkap kalau beliau ternyata sebenarnya sudah bisa naik motor sejak dulu, tapi ber nazar tidak akan pernah naik motor sebelum memilikinya sendiri.
Kerjakeras, telaten dan punya prinsip, 3 sikap hidup yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari Kang Toyo yang sederhana.
Popularity: 1% [?]
Related posts: