Sedikit demi sedikit kasus pembunuhan Almarhumah Bidan Supari mulai terkuak. Behind story, saat kasus terkuak beberapa teman dekat almarhumah sering mencium bau semerbak harum, mungkin pertanda arwah almarhumah tenang dialam sana.
Ds, alias Diska alias Dexa menjadi pelaku tunggal dari kasus pembunuhan ini. Sumber masalah dari kasus ini yaitu Ida (anak angkat korban) tidak dijadikan terdakwa. Semoga, di pengadilan akhirat si sumber masalah mendapatkan balasan yang setimpal.
JUAL LAPTOP DI PASAR SENEN,DIHARGAI RP 1 JUTA
Rabu, 23-03-2011 12:12:05
Sempat ke Jakarta Cari Kampus
NGAWI-DS,tersangka pembunuhan Supari,ternyata sempat ke Jakarta usai menghabisi bidan asal Desa Klampisan, Geneng,itu.Hanya,dia mengelak jika kepergiannya ke ibu kota itu untuk menghindari kejaran petugas.Pelajar salah satu SMA swasta di Ngawi itu mengaku ke Jakarta sekadar mencari tempat kuliah.’Bapak(Siswantoro,Red) ada di Jakarta.Saya sekadar ingin melihat-lihat kampus saja,’ungkapnya,kemarin(23/3).
DS mengaku di Jakarta selama sehari.Di ibu kota,dia menyempatkan diri singgah ke beberapa kampus swasta. Namun,remaja itu tak bisa membeberkan universitas mana saja yang didatanginya.’Ada beberapa,apa namanya saya lupa,sebab ditelepon paklik Ngawi untuk segera pulang ikut ujian,’ujarnya.
Keinginaanya kuliah ke Jakarta,kata dia,sudah terpendam sejak lama.Semasa kecil,DS tinggal di kota metropolitan itu.Baru sekitar dua tahun ini,dirinya menetap di Ngawi bersama Suminem,neneknya.’SMA saja di Ngawi.Sejak dulu saya memang ingin meneruskan pendidikan di Jakarta bersama bapak(orang tua sudah lama cerai),’paparnya.
Selain menyinggahi sejumlah kampus,DS juga mengaku sempat ke Pasar Senen untuk menjual laptop dan notebook.Dua unit komputer jinjing itu hanya dihargai Rp1juta,dan digunakan untuk membeli tiket pulang ke Ngawi.’Uangnya tinggal Rp50ribu,yang lain sudah habis untuk beli pakaian dan biaya perjalanan,’katanya.
Soal kenekatannya membunuh Supari,DS mengaku khilaf dan menyesal dengan tindakan cerobohnya itu. Menurutnya,di benaknya tak ada niatan sedikit pun melakukan menghabisi nyawa bidan yang berdinas di Desa Kendung,Kwadungan tersebut.’Saya hanya ingin memberi pelajaran saja,toh saya juga kenal(Supari,Red).Tentu saja saya menyesal dengan perbuatan yang sudah saya lakukan,’ujarnya.(dip/isd)
Ikuti Ujian di Tahanan
Kamis, 24-03-2011 12:44:25
DS,Tersangka Pembunuhan Bidan Supari
NGAWI-Meski meringkuk di bui usai ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan bidan Supari,DS belum lepas dari kegiatan akademik.Sejak Senin lalu hingga Sabtu mendatang,dia mengikuti ujian akhir semester(UAS). Namun,tidak dilakukan di sekolah,melainkan di dalam tahanan.
Kesempatan DS mengikuti UAS itu merupakan perjuangan pihak sekolah tempatnya menempuh pendidikan.Lembaga tempat remaja itu belajar tak ingin DS kehilangan hak pendidikannya.’Apalagi DS merupakan siswa yang sudah terdaftar sebagai peserta ujian,’kata Edy Sugiharto, kepala sekolah tempat DS belajar,kemarin(23/3).
Menurut Edy,pada Senin lalu,DS mengikuti UAS di dalam penjara didampingi dua pengawas dari sekolah dan petugas kepolisian.Hal yang sama dilakukan kemarin hingga Sabtu mendatang.’Bagaimana pun,meski sudah melakukan tindakan tersebut(pembunuhan,Red),saya yakin masih ada sifat baik DS walaupun hanya setitik. Makanya,kami pihak sekolah berupaya untuk menyelamatkannya(hak pendidikannya),’tegas dia.
DS yang mengikuti ujian itu di dalam bui dibenarkan Kasubag Humas Polres Ngawi AKP I Wayan Murtika.Senada dengan Edy,kata Wayan,aktivitas tersebut merupakan hak bagi DS.’Sepanjang tak mengganggu proses penyidikan. Ujian itu dilakukan di polres.Diawasi dari pihak kami dan pengawas sekolah,’kata Wayan.
Sementara itu,sosok DS di mata rekan-rekannya di sekolah tak jauh beda dengan pelajar umumnya.Dari segi intelektual,remaja itu tergolong sedang-sedang saja. Tidak termasuk siswa pintar,tapi bukan pula bodoh.
Hanya saja,pada Senin pekan lalu,DS tak masuk tanpa izin,yang belakangan diketahui dirinya pergi ke Jakarta.Namun,DS sempat memberitahu kawan-kawannya bahwa kepergiannya ke ibu kota untuk mendaftar perguruan tinggi.
Menurut salah seorang rekan satu kelas DS,jagal asal Dusun Pilang Payung Desa/Kecamatan Geneng itu mbolos hingga hari Jumat.’Sabtu dia sudah masuk dan ikut doa bersama,’kata sumber yang enggan dikorankan itu.
Ditambahkan,dari cerita yang seringkali dilontarkan DS ke beberapa rekannya,belakangan ini tiap keluar malam DS sering membawa sebilah pisau.Katanya,untuk jaga-jaga.’Tapi,perbuatan DS yang tega membunuh itu, kemungkinan ada luka di hati yang sudah lama dipendamnya,’kata sumber tersebut,ditemui usai mengikuti UAS di SMAN 1 Ngawi.
Berdasarkan penuturan beberapa temannya,DS merupakan anak korban broken home.Orang tuanya berpisah setelah ibunya pergi entah ke mana.Kejadian itu dialami DS saat masih tinggal di Jakarta.Dan,setelah beranjak SMA,DS menetap di Ngawi bersama nenek dari ayahnya. ‘Tapi tindakan itu(menghabisi bidan Supari,Red),saya rasa terlalu nekat,’ujar sumber itu.(wka/isd)
Telusuri Perilaku Menyimpang DS
Jum\’at, 25-03-2011 12:10:51
Kasus Pembunuhan Bidan Supari
NGAWI-Upaya polisi untuk mengupas kasus pembunuhan yang menimpa Supari,39 bidan Desa Kendung,Kwadungan, belum berhenti.Setelah menetapkan DS,18 pelajar salah satu SMA di Ngawi,sebagai pelaku tunggal,petugas kini menelusuri pola perilaku tersangka.Salah satunya, menelisik kisah percintaan DS dengan Ida Rukmanawati, 16,anak angkat korban.
Hasil pengembangan,hubungan dua sejoli itu tak sebatas pacaran,tapi lebih dari itu.Meski kurang dari tiga bulan menjalin hubungan asmara,DS sudah beberapa kali tidur bareng dengan kekasih hatinya itu.Dan, kesempatan itu selalu dimanfaatkan untuk melampiaskan nafsu birahi.
Sumber internal kepolisian mengungkapkan,perbuatan layaknya sepasang suami istri itu kebanyakan dilakukan di kamar Ida.Tindak asusila itu luput dari pengawasan Supari karena DS biasanya datang ke rumah Ida tengah malam.Agar tidak menimbulkan kecurigaan,DS masuk melalui jendela kamar Ida.Keduanya memang sudah klop soal urusan asmara.’Dengan sembunyi-sembunyi tentunya,’terang sumber itu,kemarin(24/3).
Namun,hubungan dua sejoli itu tak bertahan lama. Dengan alasan perbedaan prinsip,keduanya putus awal Maret lalu.Kandasnya kisah asmara DS itulah yang akhirnya menjadi awal petaka Supari.’Sebab,pelaku sakit hati kepada ibunya(Supari,Red)ikut campur dalam permasahan keduanya,’ungkapnya.
Penelusuran polisi juga mengarah ke perilaku Ida. Fakta memprihatinkan terkuak dari pendalaman pemeriksaan.Siswi yang baru menginjak kelas VIII salah satu SMP di Ngawi tersebut,mengaku memiliki tiga teman kencan.Meski usianya rata-rata sebayanya,mereka sempat melakukan making love(ML).
Bahkan,saat malam tragis yang menimpa ibu angkatnya itu,Ida kencan dengan salah satu pacarnya di Sonde, Pitu.Tengah malam,gadis itu baru pulang,atau setelah DS menghabisi Supari.’Pada malam kejadian saksi(Ida, Red)berada di Sonde,’terang Kasat Reskrim AKP Sungkono mendampingi Kapolres Ngawi AKBP Eko Trisnanto.
Pergaulan bebas itu mengundang keprihatinkan polisi. ‘Bayangkan daerah pinggiran saja seperti itu (pergaulan bebas,Red).Jujur saja kami prihatin dengan tingkah polah mereka(remaja).Hanya saja,dalam permasalahan ini kami fokuskan pada tindak
Popularity: 3% [?]
Related posts: