“Menyalin Takdir” Anak

Nasib, jodoh, rezeki dan ajal manusia sudah tertulis di kitab besar yang bernama Lauhul mahfudh. Kata kuncinya adalah “tertulis”. Bukan cuma di dalam angan.
Sebenarnya kita bisa “menyalin” takdir anak kita, asalkan dengan syarat dan semangat khusnuzhon billah, berprasangka baik kepada Allah.

Cobalah cermati urutan kalimat berikut ini.

  1. Kita tidak tahu apakah anak kita, jika dewasa nanti, akan menjadi polisi, psikolog atau dokter? Marilah berprasangka baik kepada Allah, dia menjadi dokter.
  2. Kita tidak tahu apakah anak kita akan menjadi dokter umum atau dokter spesialis? Marilah berprasangka baik kepada Allah, dia menjadi dokter spesialis.
  3. Kita tidak tahu apakah anak kita akan jadi dokter spesialis THT, bedah atau kandungan? Marilah berprasangka baik kepada Allah, dia menjadi dokter spesialis kandungan.
  4. Kita tidak tahu apakah anak kita akan kuliah di Surabaya, Jakarta atau Yogyakarta? Marilah kita berprasangka baik kepada Allah, dia kuliah di Yogyakarta.
  5. Kita tidak tahu apakah anak kita akan kuliah di UII, UMY atau UGM? Marilah berprasangka baik kepada Allah, dia kuliah di UGM.
  6. Kita tidak tahu apakah anak kita akan lulus dengan IPK 2,50 atau 3,00 atau 4,00. Marilah kita berprasangka baik kepada Allah, dia lulus dengan IPK 3,68 Cumlaude. (Catatan: Peluang untuk lulus dengan NMR 4,00 lebih kecil dibandingkan dengan NMR 2,10, namun ikhtiar dan energi yang diperlukan jauh lebih besar).
  7. Kita tidak tahu apakah anak kita akan lulus tahun 2030, 2031 atau 2032? Marilah kita berprasangka baik kepada Allah, dia lulus tahun 2033. (Catatan: Misalkan anak kita masih kelas 2 SD, dengan asumsi masih perlu 4 tahun untuk lulus SD, 6 tahun lulus SMP/SMA, 6 tahun lulus S1 dokter umum, 2 tahun kerja, dan 4 tahun spesialis, maka diperlukan waktu normal 22 tahun lagi. Bisa waktu itu dipersingkat, misalnya SMP/SMA ditempuh dalam waktu 4 tahun (akselerasi), lulus kedokteran cuma 4 tahun dan langsung mengambil spesialis, namun peluangnya lebih kecil dan energinya jauh lebih besar daripada yang “normal”).
  8. Kita tidak tahu apakah anak kita akan diwisuda pada bulan Maret, Juni atau Desember? Marilah kita berprasangka baik kepada Allah, dia diwisuda pada bulan September.
  9. Kita tidak tahu apakah anak kita akan diwisuda pada tanggal 10, 20 atau 30? Marilah kita berprasangka baik kepada Allah, dia diwisuda pada tanggal 19.
  10. Kita tidak tahu apakah anak kita akan diwisuda pada hari Senin, Rabu atau Sabtu? Yang ini kita tidak boleh berprasangka baik saja, namun harus melihat di kalender abadi, dan harus benar. Jika harinya tidak benar, maka peluang tercapainya bisa turun drastis, karena “takdir” tidak boleh salah.

Ada sebuah penelitian psikologi di Yale University, Amerika Serikat. Semua lulusan pada tahun 1954 disuruh menuliskan impiannya. Ternyata hanya ada 3% lulusan yang mampu dan mau menuliskan visinya. Yang 97% tidak mampu dan/atau tidak mau.
20 tahun kemudian, diadakan penelitian ulang terhadap semua lulusan tahun 1954 itu. Hasilnya, 3% lulusan yang menuliskan tujuannya jauh lebih sukses dan bahagia daripada 97% yang tidak menuliskan. Bahkan jumlah total kekayaan semua alumni 3% masih lebih banyak daripada jumlah total kekayaan semua alumni 97%. Kata kuncinya adalah “tertulis”. Bukan cuma di dalam angan.

Menurut ilmu manajemen, visi itu harus SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely). Ada juga yang mengatakan bahwa tujuan itu harus tertulis, jelas (detil), tidak menggunakan kata negatif (tidak), melibatkan emosi positif, dan untuk meningkatkan optimisme dan keyakinan, menggunakan kata “sudah”.

Nah, dengan semangat berprasangka baik kepada Allah, dan dengan mencoba mengikuti kaidah ilmu yang selalu berkembang, kita bisa “menyalin takdir” anak kita yang masih kelas 2 SD, seperti ini: “Alhamdulillah, dengan penuh syukur dan gembira, dengan izin Allah dan rahmat-Nya, ananda Muhammad Ibnussina bin Heru Suhartono sudah diwisuda dengan lancar dan barakah menjadi dokter spesialis kandungan (Dr.Sp.OG) di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan IPK 3,68 (Cumlaude) pada hari Senin, 19 September 2033.”

Semakin dini dan semakin detil kita merencanakan arah dan tujuan anak kita, maka peluang tercapainya semakin besar. Oklix. Tempel di kamar tidur dan meja belajar anak kita. Lengkapi dengan fotonya dengan pakaian dokter atau wisuda. Na’uudzubillaahi, kami berlindung kepada Allah dari kesalahan dan kekurangajaran. Wallahu a’lam. Berani mencoba? ***

(maturnuwun kagem Pak Yahya Amin,  yang telah berbagi tips nya. Bagi yang ingin mengenal beliau cari id beliau di Facebook dengan nama yang sama)

Popularity: 2% [?]

Related posts:

  1. Menjemput Takdir

2 thoughts on ““Menyalin Takdir” Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge