Sengkuni adalah salah satu tokoh antagonis dalam epik mahabarata, ia adalah seorang patih/perdana menteri di Negeri Hastina Pura di era kepemimpinan Prabu Suyudana. Berikut adalah sebuah kisah "lain" tentang Sengkuni karya Budi Sarjono yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat 03/02/2003, dan copy paste dari http://www.sriti.com/story_view.php?key=421
BENCANA tanah longsor itu benar-benar dahsyat. Mengubur lebih dari seratus rumah, sebagian besar berupa vila pribadi, losmen dan hotel kelas melati. Tidak ada yang tersisa kecuali puing-puing bangunan dan batang-batang pohon yang centang perentang melintang dijepit bebatuan besar dan kecil. Peristiwa memilukan yang tak pernah diramal orang.
Hanya diguyur hujan deras semalam perbukitan yang selama ini dijadikan tempat wisata rontok dalam waktu sekejap. Bebatuan dan pasir yang ada di dalamnya seperti digelontor air bah maha dahsyat. Meluncur tak terkendali menghantam pepohonan, menggasak rumah dan mengubur semua yang dilewati. Dari laporan terakhir para petugas penyelamat di lapangan sudah ditemukan seratus limabelas mayat. Jumlah itu mendekati angka resmi dari laporan para keluarga yang merasa kehilangan sanak saudaranya.
Semua orang yang melihat musibah itu meneteskan air mata. Juga sebagian besar mereka yang melihat dalam tayangan televisi. Mereka gambar rekaman mayat-mayat yang tidak utuh lagi. Kepala terlepas, kaki putus, sepotong tangan terjepit batu, bagian rongga perut yang terobek dan terisi bongkahan batu. Sebagian orang menyamakan musibah itu seperti akhir perang Baratayudha di Padang Kuru. Mayat-mayat bergelimpangan, membusuk, sebagian dimakan binatang-binatang buas pemakan bangkai, sebagian dipatuki burung-burung liar pemakan bangkai juga.
Atas saran Pak Gubernur potongan-potongan mayat itu dikubur secara massal. Sepuluh hari setelah musibah pencarian mayat dihentikan. Karena jumlah mayat yang sudah ditemukan dianggap cukup. Jika ada yang tertinggal dan masih berada di bawah reruntuhan, maka mereka dianggap dikubur di situ. Sebab daerah bencana itu akan ditutup untuk pemukiman selama-lamanya. Malah ada yang usul agar dijadikan monumen hidup tentang bencana tanah longsor.Hari itu para petugas penyelamat lapangan tinggal membersihkan reruntuhan yang menutupi badan jalan.
Agar warga masyarakat di balik perbukitan itu tidak terisolir, maka satu-satunya jalan penghubung harus dibuka kembali. Sebuah buldozer baru saja menyingkirkan batu sebesar kerbau yang melintang di tengah jalan ketika tiba-tiba dari bawah batu itu tampak telapak tangan bergerak-gerak. Mereka yang melihat kaget. Bagaimana mungkin orang tertindih batu sebesar itu masih hidup. Makin lama telapak tangan tadi makin menyembul, lalu tampak pergelangan tangan. Tangan itu menggapai-gapai seperti meminta pertolongan.
‘’Masih hidup! Masih hidup!’’ teriak beberapa orang sekaligus. Suara mereka gemetar karena campur rasa takut yang sangat.
‘’Apa benar dia masih hidup?’’ tanya yang lain ragu-ragu.
‘’Masih, masih.’’
Mereka yang mendengar lalu merubung tangan yang terus menggapai-gapai itu. Namun tak seorang pun berani mendekat dan memberi pertolongan. Tetapi tidak lama kemudian dari balik lumpur nongol sebuah kepala yang tidak utuh lagi. Meski begitu wajahnya bisa dikenali. Setelah kepala, tubuh orang itu mulai terangkat. Dengan susah payah itu berusaha untuk berdiri. Tubuh itu tidak lengkap, karena hanya memiliki sebelah tangan. Kedua kakinya pun nyaris buntung, hanya sebatas lutut. Meski begitu ia tetap berusaha untuk berdiri tegak.
‘’Siapa kamu?’’ tanya seorang petugas dengan suara serak.
Pelan-pelan ia maju, lalu mengguyur kepala orang yang tidak utuh itu dengan seember air. Kepala itu seperti ingin menggerakkan mulutnya.
‘’Siapa kamu”” tanya petugas tadi.
‘’Wajahnya kok mirip Sengkuni, patih Astina,’’ bisik beberapa orang sekaligus.
Kepala itu mengangguk-angguk. ‘’Ya, akulah Patih Sengkuni,’’ katanya dengan susah payah. Sebab tampak bahwa mulutnya sudah robek sampai mendekati leher.
‘’Patih Sengkuni?’’ tanya beberapa orang serempak.
‘’Ya, akulah orangnya,’’ jawab orang itu. Darah segar muncrat dari mulutnya yang sudah tidak utuh lagi.
‘’Mengapa kamu bisa ikut tertimbun tanah longsor? Bukankah di perang Baratayudha Bima telah merobek-robek tubuhmu, lalu potongan tubuhmu dibuang ke segala penjuru bumi?’’
Orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni itu mengangguk-angguk.
‘’Tubuhku memang telah dicerai-beraikan oleh Bima gendheng itu. Tapi ingat, tubuhku tidak bisa membusuk dan menyatu dengan tanah. Dibawa oleh angin dan zaman, cuilan-cuilan tubuhku bisa tersatu lagi. Lalu diam-diam aku tinggal di Negeri Garong ini.’’
‘’Negeri Garong? Negerinya siapa itu?’’ tanya seorang anggota tim SAR penasaran.
‘’Negeri kalian semua. Kalian kira negeri ini dipimpin oleh malaikat? Harap tahu, dari pusat sampai daerah, kalian dipimpin oleh para garong. Mereka diawasi oleh para kecu, dilindungi oleh para benggol maling. Tiap hari yang mereka pikirkan hanya satu: menggarong harta negeri ini sebanyak-banyaknya. Menindas dan menginjak kalian sampai tak berdaya. Memeras kalian sampai kalian tak punya apa-apa lagi kecuali tanggungan utang setinggi gunung.’’
Orang-orang yang merubung saling pandang satu dengan yang lain. Mereka seolah tidak percaya dengan omongan orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni itu. Di mata mereka, orang itu sebenarnya sudah layak disebut bangkai. Sebab sudah terkubur selama tujuh hari, anggota tubuhnya rompal di sana-sini, kepalanya nyaris tinggal separo. Tapi yang membuat mereka heran, orang itu ternyata masih bisa berdiri tegak dan berbicara dengan suara lantang.
‘’Dengarkan, dengarkan,’’ kata orang itu lagi sambil berusaha tegak berdiri dengan gagah.
‘’Aku akan nembang macapat. Tembangku Pangkur Palaran. Apakah kalian mau mendengarkan?’’
‘’Mau, mau!’’ jawab mereka serempak.
Operasi pencarian korban dihentikan. Alat-alat berat seperti buldozer diistirahatkan. Semua petugas penyelamat lapangan ditambah mereka yang datang sekadar hanya ingin melihat musibah itu merubung orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni. Kerumunan itu makin lama makin banyak.
‘’Akulah Patih Sengkuni, saksi zaman.
Dari abad-abad gelap aku hidup, dan tak pernah mati.
Kusaksikan penguasa-penguasa rakus.
Kulihat penguasa-penguasa kejam.
Mereka merampok negerinya sendiri.
Mereka menyiksa dan membunuh rakyatnya.
Mereka memakan bangkai rakyatnya dengan lahap.
Kekuasaan di tangan si bodoh menjadi pedang.
Jabatan ditangan si rakus menjadi jumbleng.
Tidak ada welas asih, tidak ada kaca benggala.
Semua penguasa sudah jadi raksasa.
Beragama tapi tidak kenal Sang Hyang Widi.
Perut mereka jadi jugangan.
Semua barang dimakan.
Bau mulut mereka busuk.
Sinar mata mereka keruh.
Karena hati dan jiwanya sehitam langes.
Mengapa dulu ada perang Baratayudha.
Karena untuk membersihkan penguasa-penguasa garong.
Kekuasaan dikembalikan kepada Si Arif Bijaksana.
Tetapi negeri ini telanjur dibangun dengan semangat garong.
Melahirkan anak-cucu garong dan kecu.
Begal maling gentho dan cenguk, duduk di kursi goyang.
Tangan, kaki dan mulut mereka berlumur darah.
Karena tiap saat makan bangkai mereka yang kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan.
Untuk membasmi garong, kecu, begal maling, gentho dan cenguk,
kobarkan perang Baratayudha.
Tumpes tapis mereka.
Jangan beri ampun.
Jika itu berhasil, negeri ini akan makmur.
Bukan lagi Negeri Garong.
Tetapi Negeri Makmur.’’
‘’Provokator! Provokator!’’ teriak lima aparat berseragam gelap. Mereka lalu memberondongkan peluru dari senapan otomatis di tangannya ke arah orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni itu.
‘’Kamu harus mampus!’’ Terjangan puluhan peluru itu tidak membuat tubuh orang tadi roboh. Peluru-peluru itu hanya mampu mencabik-cabik sisa-sisa daging yang masih menempel.
Orang itu malah tertawa terkekeh-kekeh. Darah segar kembali muncrat dari mulutnya.
‘’Kau mau apa? Mau membunuhku, silakan. Habiskan peluru kalian!’’ tantangnya kemudian.
Kembali lima senapan otomatis menyalak dan menyemburkan puluhan peluru tajam. Namun orang itu tetap tak bergeming.
‘’Apa pun yang akan kalian lakukan, ingat-ingat ini, aku tidak bisa mati. Karena akulah kekuasaan busuk yang tadi kukutuk sendiri. Anak cucuku telah menguasai negeri ini dengan sempurna. Merekalah penguasa-penguasa busuk, hakim-hakim busuk, jaksa-jaksa busuk, penegak hukum busuk, pejabat busuk, pegawai busuk, aparat keamanan busuk, garong dan maling busuk. Heh-hehh aku menyesal telah memperanak-pinak mereka. Karena itu aku akan mengutuknya. Aku akan mengutuk penguasa-penguasa busuk!’’
‘’Seret provokator busuk itu!’’ perintah seseorang dengan suara lantang.
Lima orang maju lalu dengan kasar dan bengis menyeret tubuh orang yang sudah tidak lengkap itu. Dengan cepat mereka memasukkan tubuh itu ke dalam karung plastik ukuran besar.
‘’Hei, kalian lihat sendiri, aku akan dijadikan tumbal negeri ini. Tubuhku akan dimasak, lalu nanti akan dijadikan hidangan istimewa dalam suatu pesta oleh para garong, kecu, maling dan gentho. Dengan memakan dagingku, mereka berharap, hidup mereka tidak berakhir tragis seperti diriku. Lihat saja, apa yang akan terjadi besok pagi!’’ teriak orang tadi yang sudah ada di dalam karung.
Esok harinya semua koran, radio, televisi dan semua sumber berita negeri ini mewartakan kabar yang sama: semua pejabat dari pusat sampai daerah, dari tingkat eselon tinggi sampai yang paling rendah, semua masuk rumah sakit. Menurut diagnose dokter, mereka semua keracunan daging bangkai!
***Dayu, Februari 2003.
























feed
